Minggu, 12 Juli 1998

Can't Hardly Wait


Cast: Ethan Embry, Charlie Korsmo, Lauren Ambrose, Peter Facinelli, Seth Green, Jennifer Love Hewitt, Robert Jayne, Michelle Brookhurst
Director: Deborah Kaplan & Harry Elfont
Writers: Deborah Kaplan, Harry Elfont
Realese Date: 12 Juni 1998


Can't Hardly Wait mengandung unsur-unsur klise film remaja, tapi juga mengandung sesuatu yang lumayan menyegarkan untuk sebuah film remaja. Langsung saja ke resensinya, Can't Hardly Wait mencoba menyuguhkan semacam drama-komedi multikarakter ala SMA dengan setting di semacam pesta kelulusan.

Ada enam tokoh utama film ini: Preston Meyers (Ethan Embry), cowok biasa-biasa saja yang di pesta ini bermisi menyatakan cinta pada gadis impiannya, Amanda Beckett (Jennifer Love Hewitt), sebelum esoknya berangkat kuliah; Denise Fleming (Lauren Ambrose), sahabat Preston, tipikal cewek penyendiri dan tidak PD-an yang di pesta tersebut malah bercakap-cakap kembali teman lamanya (yang menurutnya sekarang sudah sombong dan aneh)


Amanda Beckett, tipikal gadis paling cantik seangkatan yang pada dasarnya enggan dengan statusnya itu dan lebih memilih memandang dunia dari sisi lain ketimbang sekedar cantik semata; Mike Dexter (Peter Facinelli), tipe-tipe cowok paling tampan yang paling digilai-gilai cewek-cewek sesekolahan yang baru saja putus dengan Amanda Beckett; 

William Lichter (Charlie Kosmo), tipikal geek dan, tentunya, cowok culun paling pintar di sekolah dengan segudang prestasi tapi seringnya jadi bahan tertawaan yang di pesta ini bermisi membalas dendam pada Mike Dexter tapi malah mendapatkan pengalaman yang lebih heboh lagi; dan terakhir, Kenny Fisher (Seth Green), entahlah, tipikal cowok aneh dengan logat, “I fig-yuh all da bitches in class are gonna be at dat paw-ty,” dengan selera fashion super aneh (plus sebuah kacamata renang), yang sebenarnya dulu pernah jadi teman baik Denise Fleming, dan di pesta ini, dikarenakan sebuah situasi, berusaha berbaikan dengan Denise.

Saya rasa cuma dengan penjelasan di atas sudah cukup kelihatan premise film ini. Keenam karakter utama film ini merukana perwakilan pop culture masing-masing sekaligus mewakili keklisean film-film remaja.

Kalau saya harus memilih dari segi penokohan dan penampilan pemain, saya tertarik dengan penampilan Lauren Ambrose yang memberikan proporsi seimbang antara unsur komikal dan satirika pada tokohnya. Saya juga cukup tertarik dengan penampilan Peter Facinelli yang mengingatkan saya dengan peran-peran Tom Cruise ketika muda. Untuk Jennifer Love Hewitt , penempatannya sebagai tokoh gadis tercantik sesekolah memang cocok .


Secara keseluruhannya, Can't Hardly Wait bisa dibilang film remaja dengan formula yang cukup unik, tapi sayangnya dikotori oleh beberapa keklisean di sana-sini. Walaupun begitu, untuk sebuah drama-komedi remaja, Can't Hardly Wait tetap saja menarik untuk ditonton.

Kamis, 04 Juni 1998

Deep Impact


Cast: Morgan Freeman,Tea Leoni, Robert Duvall, Elijah Wood
Director: Mimi Leder
Produksi: Pparamount Pictures
Release Date: 8 Mei 1998


Deep Impact dibintangi oleh Elijah Wood, Tea Leoni, Morgan Freeman, dan Robert Duvall, dengan salah satu produsernya adalah Steven Spielberg. Film yang disutradai Mimi Leder ini menceritakan tentang penemuan sebuah komet yang kemudian dinamakan komet Wolf-Biederman oleh Leo Biederman (Elijah Wood) dan Marcus Wolf (Charles Martin Smith). Menurut kalkulasi mereka komet ini akan menabrak Bumi dan berpotensi membuat kerusakan yang sangat dahsyat. 


Singkat cerita, Amerika Serikat dan Rusia, dua negara yang aktif dalam pengamatan ruang angkasa bekerja sama meluncurkan sebuah misi yang disebut Messiah. Tujuan pembuatan Messiah adalah menghancurkan komet tersebut dengan nuklir. Misi Messiah ini tidak sepenuhnya berhasil karena gagal menghancurkan komet dan gagal membelokkan orbitnya. Komet ini justru terbelah dua, menjadi batuan angkasa yang masih membahayakan Bumi. Bagian komet yang dinamakan Biderman berukuran lebih kecil, pada akhirnya menerobos atmosfer Bumi dan jatuh di samudra Atlantis yang menimbulkan gelombang tsunami yang cukup dahsyat. 


Bagian komet yang berukuran lebih besar, dinamakan Wolf, berhasil dihancurkan oleh misi bunuh diri pesawat Messiah. Awak Messiah yang masih hidup memutuskan untuk menabrakkan pesawatnya ke potongan badan komet dan berhasil menghancurkan si komet menjadi kepingan-kepingan kecil.


Film ini mengingatkan kita bahwa bencana antariksa bukan hal yang mustahil terjadi. Puluhan juta tahun lalu, Bumi cukup sering dibombardir oleh benda-benda langit seperti meteoroid dan asteroid dan menciptakan kawah-kawah besar di permukaan Bumi. Sebelum diceritakan lebih jauh mengenai kawah-kawah ini, saya perjelas dulu apa itu asteroid, meteoroid, dan meteorit.

Asteroid yang sering disebut juga sebagai planet minor adalah benda langit yang berukuran lebih kecil dari planet dan terdapat di sabuk asteroid, yaitu suatu wilayah yang berada di antara orbit Jupiter dan Mars. Asteroid-asteroid ini tak jarang mengorbit hingga mendekati orbit Bumi. Asteroid yang bergerak mendekati Bumi macam ini disebut NEA (Near Earth Asteroid). Sedangkan meteoroid adalah benda angkasa yang berasal dari pecahan asteroid atau komet, berukuran lebih kecil dari asteroid. Meteoroid yang masuk ke atmosfer Bumi akan mengakibatkan pijaran cahaya akibat gesekan yang disebut meteor atau orang awam menyebutnya sebagai bintang jatuh. Bersyukurlah, karena Bumi memiliki atmosfer yang dapat mengikis meteoroid tadi, ada yang terkikis dan terbakar habis di atmosfer, ada juga yang tidak. Jika meteoroidnya cukup besar dan tak seluruhnya habis terbakar di atmosfer, maka akan jatuh ke Bumi dan disebut sebagai meteorit.


Meteorit ini jika berukuran kecil tidak menimbulkan dampak yang membahayakan. Namun jika meteoritnya berasal dari sebuah asteroid yang cukup besar, sangat membahayakan kelangsungan makhluk hidup di Bumi. Sekitar 65 juta tahun yang lalu sebuah meteorit yang diduga berasal dari asteroid yang menghantam Bumi mengakibatkan kepunahan dinosaurus. Meteorit ini meninggalkan bekas kawah di daerah Chicxulub, Semenanjung Yucatan, Meksiko selebar 200 km dan kedalaman 3 km. Punahnya dinosaurus dan spesies lain ketika itu, bukan saja akibat dampak langsung dari hantaman meteorit tapi juga dampak tak langsung. Debu yang dihasilkan dari tabrakan cukup tebal dan menyelubungi atmosfer Bumi sehingga menghalangi sinar matahari masuk dalam kurun waktu tertentu (tahunan). Tumbuhan yang memerlukan sinar matahari dalam proses fotosintesis, akhirnya tak dapat melakukan ‘tugasnya’ dan berimbas pada matinya spesies lain akibat tak adanya tumbuhan yang hidup.


Sebuah kawah besar akibat tumbukan meteorit juga ditemukan di daerah Arizona, tepatnya di Canyon Diablo, Amerika. Kawah yang dinamakan Barringer Crater ini berdiameter 1,2 km dan kedalaman 200 meter dan berumur 50 ribu tahun. Nama Barringer diambil dari nama  Daniel Moreau Barringer, seorang ahli pertambangan yang pertama kali mengemukakan pendapat mengenai penyebab terbentuknya kawah adalah akibat dari hantaman sebuah meteorit.

Selain dua kawah tersebut, setidaknya ada 150 kawah meteorit yang ditemukan di Bumi. Kebanyakan kawah-kawat tersebut berumur ribuan bahkan jutaan tahun. Beberapa isu mengenai kiamat juga banyak dikaitkan dengan asteroid. Hal ini didasarkan pada banyaknya benda langit yang melintas dekat Bumi. Tahun 1989 sebuah asteroid bergerak sangat dekat dengan Bumi. Asteroid ini hanya berjarak 64.000 km, lebih dekat dari jarak Bumi - Bulan (384.000 km). Energi yang tersimpan dari pergerakan asteroid ini cukup besar, yaitu 50.000 kali lebih kuat dari energi yang dihasilkan oleh bom atom Hiroshima. Pada tahun 2028 diperkirakan sebuah asteroid akan mendekati Bumi.NASA juga mencatat adanya sebuah asteroid yang berpotensi akan menabrak Bumi pada tahun 2019.

NASA dan ESA (badan antariksa Eropa), sebagai sebuah badan yang mengurusi hal ini menempatkan beberapa satelit pemantau yang dilengkapi teleskop landas angkasa untuk mengamati pergerakan NEA. Seperti di film Deep Impact, jika ada asteroid atau benda langit yang berpotensi menabrak Bumi dan memicu bencana dahsyat, maka pihak-pihak tersebut setidaknya menyiapkan beberapa skenario penyelamatan. Entah dengan penghancuran atau pembelokan orbit benda-benda tersebut. Sejak awal 1990-an NASA bersama Strategic Defence Initiative Organization bahkan telah merancang satelit penghancur berpeluru kendali. Proyek ini dinamakan Clementine-2.

Jumat, 27 Februari 1998

Deep Rising

Cast: Treat Williams, Famke Janssen, Kevin J. O'Connor,, Anthony Heald, Derrick O'Connor, Cliff Curtis, Djimon Hounsou, Wes Studi
Director: Stephen Sommers
Release Date: 30 January 1998


Keceriaan di kapal pesiar mewah berubah menjadi teror yang mencekam. Itulah yang terjadi pada sebuah kapal yang sedang melintasi laut Cina Selatan. 

Cerita berawal dari Sekelompok bajak laut profesional yang melihat kapal pesiar mewah yang sedang berlabuh, merekapun berniat untuk merampok permata dan barang-barang mewah lainnya yang dibawa oleh para penumpang. Setelah didekati, mereka langsung menyelusup ke dalam kapal dan menyelusuri setiap ruangan dan kabin kapal sesuai dengan rencananya.


Namun keanehan pun terjadi setelah para perampok itu masuk dalam kapal, sebab tak seorang pun penumpang yang berada di kapal. Keadaan makin tegang ketika mereka menemukan ceceran darah berhamburan di lantai dan dinding kapal. Akhirnya, mereka pun membatalkan niatnya untuk merampok dan rencana pun dirubah karena mereka sepakat untuk mencari siapa yang melakukan semua ini.


Dengan kerja keras dan upaya untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi dalam kapal mewah ini. Mereka dilengkapi persenjataan lengkap dan canggih, para perampok menyebar untuk menangkap penteror. Sayangnya pembajak yang memiliki pengalaman tempur dan kemiliteran ini tak mampu mencegah berbagai pembantaian yang dialami rekan-rekannya dan sebagian korban mati secara mengenaskan dengan tubuh tercabik-cabik oleh ular raksasa yang suka memangsa manusia. Monster ini sangat cerdas karena memiliki kemampuan berpikir untuk membunuh lawan-lawannya.

Senin, 05 Januari 1998

The Borrowers

Director: Peter Hewitt
Release Date: 5 Desember 1997


Film arahan Peter Hewitt ini mengisahkan tentang kehidupan manusia kerdil yang tempat tinggal akan digusur. Film ini memang asik untuk disimak hingga akhir cerita karena ceritanya penuh fantasi dan kadang membuat kita tersenyum.


The Borrower adalah sosok manusia kerdil dengan ketinggian fisik hanya 4 inci. Borrower tinggal di bawah lantai rumah yang pemiliknya begitu baik padanya. Namun, keadaan berubah total dan nasib malang pun menimpanya ketika pemilik rumah yang mereka tinggali meninggal dan munculnya pihak pengembang yang licik dan ingin menguasai rumah tersebut.


Ocious Potter (John Goodman) selaku pihak pengembang yang licik ingin membeli rumah yang dihuni manusia kerdil. Mereka berencana setelah rumah tersebut dibeli, Ocious ingin menghancurkannya dan segera membangun apartemen mewah dengan menghasilkan banyak keuntungan.


Sebaliknya, kelompok manusia kerdil itu mulai berjuang mempertahankan rumah, yang selama mereka tinggali. Perjuangan mereka pun dibantu oleh anak pemilik rumah, Pete (Broadley Pierce).


The Borrowers adalah novel fantasi dari buah karya Mary Norton yang terbit pada tahun 1952 yang disusul dengan beberapa sekuelnya.

Senin, 09 Desember 1996

The English Patient

Cast: Ralph Fiennes; Juliette Binoche; Willem Dafoe; Kristin Scott Thomas
Director: Anthony Minghella
Writers: Anthony Minghella base on Novel Michael Ondaatje
Produksi: Miramax Films
Release Date: 15 November 1996


The English Patient yang berlatar belakang Perang Dunia II, berawal dengan jatuhnya sebuah pesawat di gurun Afrika. Dari puing pesawat Inggris ini, ditemukan seorang pria (Ralph Fiennes) yang mengalami luka bakar parah di sekujur tubuhnya. Ia kemudian diselamatkan dan dirawat, sebelum akhirnya diserahkan pada pihak tentara Kanada untuk terus mendapatkan perawatan. 


Ternyata, pria ini hilang ingatan, sehingga pihak tentara kesulitan mengidentifikasinya. Yang ia punya hanya buku sejarah Herodotus. Akhirnya, karena ia ditemukan sedang mengemudi pesawat Inggris, ia disebut The English Patient. Ia dirawat oleh Nurse Hana (Juliette Binoche) di sebuah desa di Italia yang penuh dengan ranjau bom peninggalan Jerman. 

Ketika sedang melakukan perjalanan, rombongan perawat dan korban perang ini dikejutkan oleh ranjau. Dan saat itu Nurse Hana kehilangan teman baiknya. Tidak ingin kembali merasakan kehilangan, ia memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan dengan rombongan, melainkan memisahkan diri bersama dengan The English Patient untuk tinggal di sebuah monastery yang terbengkalai. Hana merasa tempat itu akan membuat The English Patient merasa nyaman di saat-saat terakhir hidupnya.Hingga kemudian datang Caravaggio a.k.a Moose (Willem Defoe) yang merupakan bagian dari masa lalu The English Patient.

Lewat serangkaian flashback, mulai terkuaklah masa lalu The English Patient. Ternyata, ia bernama Count Laszlo De Almasy dan berprofesi sebagai pembuat peta di Afrika, khususnya di kawasan gurun pasir di Mesir dan kawasan Afrika Utara lainnya. Suatu hari dalam pekerjaannya, datang sepasang suami istri yang ikut dalam tim eksplorasi Almasy dan partnernya, Madox. Suami istri ini adalah Geoffrey Clifton (Colin Firth) dan Katharine Clifton (Kristin Scott Thomas). Almasy dengan segera jatuh cinta pada Katharine dan memulai sebuah kisah cinta terlarang di antara mereka. Lambat laun, Geoffrey mulai mengerti kebenarannya dan mengakhiri cinta segitiga ini dengan tragis.


Suster Hana sendiri akhirnya berhasil mengobati trauma masa lalunya, di mana ia menganggap dirinya adalah kutukan karena semua yang ia cintai mati, dengan mencintai Kip Singh, seorang India yang bekerja untuk Inggris sebagai penjinak bom.

Well, overall menurut saya film ini bagus sekali. Dan sangat menyentuh dengan ending yang begitu menyakitkan. Setting-nya indah dan eksotis. Gurun pasir yang selama ini di benak saya panas dan kotor ternyata malah bisa jadi tempat romantis di film ini.


Ceritanya sendiri berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Michael Ondaatje dan mengalir dengan natural. Dapat dibedakan dengan mudah mana yang kejadian sekarang mana yang flashback. Jadi, penonton tidak bingung. Juga kisah cinta Hana dan Kip yang beda suku. Tetap indah. Mengingatkan kita bahwa cinta itu universal. Tidak pandang suku, umur, dan hal-hal lainnya.


Selain itu, yang membuat film ini jadi lebih hidup adalah akting dari Ralph Fiennes dan Kristin Scott Thomas. Dari awal saya bisa lihat bahwa mereka saling mencintai. Dan dari akting mereka saya juga tahu ada perasaan bersalah menjalani cinta terlarang ini. Bahwa, Katharine memang harus meninggalkan Almasy walaupun hanya untuk sementara karena takut Almasy lebih tersakiti lagi. Saya tahu semua itu sangat sederhana dari mata mereka yang berbicara.  Bukankah akting yang bagus itu adalah akting yang bisa menggambarkan konflik batin yang dihadapi bahkan tanpa harus bicara? Apalagi ketika Almasy berdansa dengan Katharine, pandangan matanya kepada Katharine adalah pandangan lelaki yang sedang tergila-gila

Sabtu, 24 Juni 1995

Braveheart

Cast: Mel Gibson; Sophie Marceau; Patrick McGoohan; Catherine McCormack; James Robinson
Director: Mel Gibson
Release Date: 24 Mei 1995


Filmnya dibuka oleh suara narator, ”Saya akan menceritakanmu tentang William Wallace. Para sejarawan Inggris mungkin akan berkata saya adalah seorang penipu, tetapi sejarah ditulis oleh mereka -yang pahlawannya telah digantung.”

Pada adegan pertama, William Wallace muda melihat tubuh-tubuh orang dewasa dan anak-anak Skotlandia tergantung, mereka baru saja menemui perwakilan dari Edward I, yang lebih terkenal dengan sebutan Longshanks –si Jangkung. Edward I memerintah dengan kekejaman tanpa batas, yang memiliki obsesi menghancurkan populasi asli orang Skotlandia baik melalui perang maupun perkawinan. Ia menerapkan hukum kuno yaitu, primae noctis (“malam pertama”), yang membolehkan para bangsawan, tuan tanah dan sejenisnya untuk “memperawani” setiap gadis pada malam pernikahan mereka.


Dalam filem ini digambarkan oleh Mel Gibson sebagai pemeran William Wallace tokoh rakyat Skotlandia, menceritakan tentang kepahlawanan, perjuangan rakyat Skotlandia melawan penjajahan Inggris, yang diwarnai dengan rasa pedas penghkianatan. Film ini menjadi sangat enak sebagai masakan sinema. Film ini disutradarai sendiri oleh Mel Gibson.

Film bertema demikian mudah terjebak dalam kejenuhan, akan tetapi Mel Gibson dengan gaya seninya yang unik, berhasil membentuk figure seorang pahlawan nasional yang utuh, sentimental, berjiwa ksatria dan berperi-keadilan. Kegigihannya telah membuat film tersebut memperoleh beberapa penghargaan Oscar yang memiliki nilai seni tinggi.


Sesudah sang ayah dibunuh tentara Inggris beberapa tahun sebelumnya, Wallace balik ke kampung halaman, ia kemudian menikah diam-diam dengan gadis tetangga yang cantik bernama Helen serta melewatkan hari-hari yang tenang dan bahagia. Di atas tanah pegunungan Skotlandia yang memesona dan dengan latar belakang musik alunan alat musik khas bangsa Skotlandia yang terkesan lembut, indah dan syahdu, mengiringi dua orang muda-mudi menunggang seekor kuda berjalan dengan perlahan.

Namun pemandangan indah tersebut tidak berlangsung lama, suatu hari pasukan Inggris tiba-tiba menyerbu masuk halaman rumah mereka, menculik dan membunuh Helen yang bersumpah tidak mau menyerah.


Wallace memimpin pasukan Skotland bangkit berontak untuk membalas dendam kepada musuh. Proses perjuangan yang penuh derita, keberanian dan kecerdasan Wallace memperoleh respek dari orang-orang, bahkan utusan raja Inggris Edward, selir raja Isabel (Sophie Marceau) juga bertekuk-lutut oleh kejantanannya yang gagah perkasa dan bersedia membantunya secara diam-diam, bahkan cinta telah bersemi, dia mengatakan: "Aku mengagumi spirit kebanggaan di dalam sorot matamu".

"Setiap orang pasti mati, tetapi tidak setiap orang pernah benar-benar hidup." (Every man dies, not every man really lives.) Perkataan Wallace ini, telah menunjukkan sebuah pandangan hidup seorang pahlawan. Pasukan Inggris yang ia hadapi selain kuat, bahkan terbiasa menggunakan cara-cara keji, lagipula bangsawan Skotland sebagai pasukan persekutuan egois dan lemah.

Wallace selalu bertempur di garis paling depan dengan gagah berani, akhirnya karena tak kuasa melawan musuh yang lebih banyak, setelah terluka ia tertangkap pasukan Inggris. Raja Inggris Edward yang penyakitnya tak tertolong lagi tapi demi membuat jera lawannya, ia memutuskan menghukum mati Wallace. Namun ia masih berharap sebelum ajal mendengar Wallace memohon pengampunan.

Pemandangan eksekusi mati selamanya sangat brutal dan menakutkan, Mel Gibson di dalam penanganan shooting "brave heart" terkesan sangat canggih. Kereta tawanan mengangkut Wallace dengan kedua tangan terikat menuju arena kematian, para penonton yang berkerumun mendadak sunyi. Dua algojo kekar membawa Wallace ke podium pemancungan, pejabat pengawas eksekusi memamerkan kepadanya kapak dan golok yang memancarkan sinar kemilau dingin.

Mimik Wallace tenang. Kemerdekaan bangsa dan kebebasan rakyatnya adalah keyakinannya. Kini, detik-detik pengorbanan diri telah tiba. Sorot matanya tiba-tiba terfokus pada seorang anak perempuan berusia 4-5 tahun di bawah podium, wajahnya agak dekil dengan rambut awut-awutan.
Kematian diri sendiri, bukankah justru demi anak-anak ini dapat hidup dengan bahagia? Ia pernah mengatakan kepada kawan seperjuangan sebagai berikut: "Jika berperang, kalian mungkin bisa mati. Jika melarikan diri, minimal masih bisa¡K.hidup lebih lama sedikit. Tahun berlalu, hingga usia berakhir, relakah kalian? Begitu banyak hari-hari dimana hidup dengan menanggung hina, gantilah dengan sebuah peluang, hanya sebuah peluang saja. Kembali ke sini, katakan kepada musuh kita, barangkali mereka bisa merenggut nyawa kita, namun mereka selamanya tidak dapat merebut kebebasan kita (They may take our lives, but they’ll never take our freedom)"

Terdengar pejabat pengawas eksekusi membentak: "Asalkan kamu mengakui telah berkhianat kepada raja dan memohon kemurahan hatinya, maka bisa mengampunimu." Hati Wallace tak tergerak. Perintah diturunkan, seutas tali kasar dilingkarkan di lehernya, ia lalu diangkat ke atas, nyaris tercekik, tapi tak keluar sepatah katapun.

Tak lama kemudian, jeratan dilonggarkan, ia terbanting dengan keras di atas tanah. Lalu para algojo mengikat kedua ujung tangan dan kakinya serta ditarik ke arah berlawanan, kita samar-samar mendengar suara gemeretaknya tulang merekah. Mimik para penonton di seputar podium potong kepala beraneka ragam, dari sikap menonton keramaian pada awalnya berubah ke kengerian dan iba, merekapun terus menerus memohon untuknya: "Mohon pengampunan, mohon pengampunan!"

Kamera diubah arahnya: Nafas raja Inggris Edward sudah payah, ia berbaring di atas ranjang, dengan tatapan kosong menanti permohonan pengampunan dari Wallace. Sang selir Isabel memohonkan pengampunan kepada Wallace, sang raja dengan wajah bengis menolaknya. Si selir tahu sudah tak ada harapan, dia dengan air mata berlinang satu kata demi satu kata mengatakan kepada raja yang sedang sekarat tersebut: "Di perutku terkandung keturunannya dan anak ini akan menjadi raja masa mendatang."

Kamera dikembalikan ke sisi lain. Badan Wallace mengejang, tengkuk dan wajahnya dihajar sehingga penuh luka, ia masih saja bertahan. Pejabat pengawas hukuman kehilangan akal, ia memerintahkan para orang kekar mengikat empat anggota tubuh Wallace di atas podium pemotongan kepala. Mereka menggunakan pisau lengkung memotong bajunya dan dadanya.....massa penonton mengeluarkan suara terkejut dan ketakutan, kawan seperjuangannya yang berada di dalam kerumunan juga diam-diam memohon agar ia jangan lagi bertahan.

Ternyata, bibir Wallace bergetar seolah hendak bersuara. Pejabat pengawas hukuman menyambut dengan gembira, ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk berhenti dan berupaya mendengar permohonan pengampunan Wallace. Pada adegan khusus itu terlihat: jakun Wallace bergerak-gerak, bibirnya bergetar, dengan mengandalkan kekuatan terakhirnya, ia berteriak dengan lantang: "Kebebasan (freedom)!" Energi teriakan tersebut seolah hendak menelan cakrawala langit, dengan dahsyatnya menggetarkan sanubari kita. Oh Tuhan, suara terkuat yang bisa dikeluarkan umat manusia, tak ada yang melebihi ini.

Di dalam teriakan menggelegar itu, Edward si raja sekarat menghembuskan nafas terakhir. Pejabat pengawas hukuman pupus tuntas harapannya, ia diam-diam menggelengkan kepala dan memberi tanda untuk action kepada sang algojo.

Selanjutnya adalah sebuah rekaman slow motion hasil karya sang master: kapak tajam yang berkilauan terayun melengkung di udara dengan perlahan, diiringi suara musik latar yang bergelora bercampur lembut nan indah, Wallace yang semula menadah ke langit menoleh ke arah kerumunan massa, sebuah bayangan yang dikenalnya berkelebat melewati massa, dengan entengnya berjalan menyongsong, ia dengan jelas melihat wajah tersenyum Helen sang istri.....kapak tajam menghunjam, sapu tangan di genggaman kuat Wallace terbang melayang-layang, itu adalah surat cinta sang istri.

Persis dengan Puisi Whitman: "Di tempat yang terdapat lelaki dan perempuan, para pahlawan senantiasa mengejar kebebasan."



Di dalam teriakan Wallace yang tak gentar oleh kematian, kita telah menyaksikan kebebasan. Teriakannya telah membangkitkan lebih banyak orang lagi untuk berjuang demi kebebasan. Selamanya tidak ada kebebasan yang diberikan cuma-cuma oleh penguasa lalim, hanya melalui pengorbanan baru bisa meraih kebebasan. Pada masa berlainan, negara berbeda, musuh dari kebebasan kemungkinan ada 1000, padahal kebebasan hanyalah satu: Kebebasan Wallace dengan kebebasan Anda dan saya adalah sama. Sementara ada orang yang menyegelnya, membetotnya, merusaknya, menghinanya, mengucilkannya, namun siapapun tidak akan mampu mengubah sebuah realita: kebebasan ada di dalam dasar jiwa kita.

Senin, 30 September 1991

Child's Play 3


Director: Jack Bender
Writers: Don Mancini
Release Date: 30 Agustus 1991


Film ini digarap oleh sutradara Jack Bender pada tahun 1991. Dibintangi oleh Justin Whalin, Perrey Reeves, Jeremy Sylvers dan Travis Fine.

Child’s Play 3 dimulai seperti biasa dengan rekonstruksi ulang boneka Chucky oleh pihak Good Guys. Rekonstruksi kali ini kembali memakai sisa-sisa boneka Chucky yang diceritakan tewas dalam film Child’s Play 2.

Setelah boneka tersebut selesai, kembali lagi roh Charles Lee Ray yang berada dalam tubuh Chuky hidup. Kali ini ia membunuh CEO Good Guys, Mr. Sullivan. Chucky lantas mencari tahu kemana Andy Barclay (Justin Whalin) pergi. Ia mendapatkan informasi dari data di komputer bahwa Andy Barclay kini sudah berusia 16 tahun dan ia sekolah di sebuah sekolah kemiliteran.

Setelah 8 tahun sejak peristiwa pembunuhan yang terjadi di child's play 2, hal itu membuat trauma pada Andy yang baru berusia remaja. Jiwa Andy mulai terguncang, seakan-akan Andy yang akan menjadi korban berikutnya. Akhirnya, Andy memutuskan untuk masuk akademi militer. Agar phisik dan mental siap menghadapi segalanya, terutama boneka Chucky yang dimasuki roh Charles.


Sementara itu, perusahaan mainan Play Pals Toy Company akan melanjutkan usahanya, yang selama ini mendapat publisistas buruk dan mendapat kecaman dari masyarakat setempat karena dianggap boneka produksinya sangat berbahaya dan mengancam banyak orang. Ketika pihak perusahaan boneka itu menggunakan kembali bahan lama, roh jahat Charles Lee Ray yang semasa hidupnya sebagai pelaku pembunuhan berantai, sekali lagi muncul dan masuk ke boneka Chucky.


Dalam usaha mencari Andy, boneka Chucky jatuh ke tangan anak yang lebih muda. Roh Charles menyadari, mungkin akan lebih mudah memindahkan jiwanya terhadap anak yang masih polos. Sasaran Chukcy mengejar Andy, karena dia satu-satunya yang tahu apa yang dihadapi Chucky. Sekarang tergantung Andy untuk menghentikannya.